Author by :

Membangun Strong Leadership : Menyamakan Value

By: | Tags: | Comments: 0 | July 17th, 2018

Fadjar Ari Dewanto, Coordinating Partner of Business Advisory Services
=====================================================================================================================

Setiap perusahaan menyadari bahwa pengaruh kepemimpinan dalam keberhasilan mencapai apa yang direncanakan. Banyak perusahaan mengalokasikan biaya dan tenaga untuk memiliki seorang pemimpin yang kuat. Mulai dari mendefinisikan kualifikasi seorang pemimpin, merekrut mereka yang sesuai dengan kualifikasi, melakukan pelatihan berjenjang, mengadakan monitoring setiap pemimpin yang ada, menghubungkan kepemimpinan dengan penilaian kinerja, dan masih banyak lagi usaha yang dilakukan agar mendapatkan pemimpin yang berkualitas.

Saya ingin berbagi setelah seringkali melatih ribuan pemimpin untuk bisa menjadi seorang pemimpin yang lebih baik. Saya melihat bahwa definisi kepemimpinan ini yang patut disadari oleh seorang pemimpin, kepemimpinan adalah influence begitu definisi John Maxwell. Menjadi seorang pemimpin yang kuat berarti mempunyai pengaruh yang kuat. Apapun usaha perusahaan meningkatkan kualitas pemimpin berujung pada pengaruh pemimpin yang kuat. Paling mudah melihat pengaruh seorang pemimpin adalah pada saat orang melakukan apa yang dia katakan bukan karena posisi pemimpin sebagai atasan dia, bukan karena sang pemimpin memberikan imbalan, bukan karena alasan promosi, bukan karena alasan penilaian kinerja, namun karena diri sang pemimpin sendiri memberikan pengaruh kepada orang-orang yang dipimpinnya. Wow, ini adalah harapan setiap perusahaan, memiliki pemimpin yang kemampuan kepemimpinannya lahir dari dirinya. Mungkinkah hal ini terjadi? Saya mendapatkan banyak pertanyaan itu dari banyak klien yang sedang mengalami kesulitan membangun kepemimpinan.

Influence mempunyai banyak jalur untuk mendapatkannya, tapi yang paling sejati terbentuk dari trust, believe atau keyakinan kepada seorang pemimpin karena pribadi pemimpin akan membawa mereka kepada apa yang mereka sendiri yakini. Ketika ada pertemuan antara nilai seorang yang dipimpin dengan pimpinan maka disinilah terbentuk keyakinan dan membawa pengaruh yang sangat besar. Masih ingat Martin Luther King? Pemimpin kesamaan hak-hak sipil di Amerika ini pada tahun 1963 menyampaikan pidatonya yang terkenal “I have a dream” dan 250.000 orang datang mendengarkannya di Lincoln Memorial Washington, D.C. Padahal waktu itu belum ada internet, tentu tidak ada email atau alat komunikasi canggih lainnya yang membuat orang dapat datang sebanyak itu. Mereka datang karena satu alasan, nilai dalam hati mereka bertemu dengan nilai didalam hati Martin Luther King, yaitu value persamaan hak-hak sipil.

Persamaan nilai ini yang harus ditempuh oleh seorang pemimpin untuk memiliki kepemimpinan yang kuat. Kesamaan nilai, merupakan pekerjaan yang dilakukan dari hari ke hari, yang tidak didapatkan secara instant seperti merebus makanan cepat saji. Perlu disadari ketika berbicara nilai, maka hal ini adalah underwater iceberg matters, memerlukan waktu untuk bisa menjadi sama. Kualitas pengetahuan, sikap, ketrampilan bisa berbeda-beda, namun nilai yang dipegang diperlukan kesatuan didalamnya. Kepemimpinan yang kuat dimulai dengan usaha membawa value atau nilai orang yang dipimpin kepada sang pemimpin.

Leave a Reply