Author by :

Strong Leadership: Melakukan Apa yang Diyakini

By: | Tags: | Comments: 0 | July 16th, 2018

Fadjar Ari Dewanto, Coordinating Partner of Business Advisory Services
=====================================================================================================================

Kepemimpinan yang kuat memerlukan tindakan nyata seorang pemimpin dalam kegiatan sehari-hari. Seluruh perubahan dalam organisasi, derajatnya tergantung seorang role model. Siapakah yang memegang peranan ini? Adalah seorang pemimpin, gelora sebuah organisasi ditentukan oleh action dari seorang pemimpin. Organisasi mengalami kekacauan apabila pemimpin memiliki tindakan yang berbeda dengan apa yang diyakini. Bila organisasi melihat seorang pemimpin tidak melakukan apa yang diyakininya, maka akan melemahkan komitmen yang sudah ditetapkan, dan tidak melakukan apa yang terbaik yang bisa dilakukan. Sulit untuk meminta divisi yang dipimpin untuk hadir tepat waktu, bila seorang pemimpin sendiri selalu terlambat. Sulit untuk meminta tidak menggunakan media sosial pada jam kerja, bila seorang pemimpin menghabiskan waktu di media sosial. Kalau pemimpin yang kurang tersenyum tidak mudah meminta seluruh karyawan banyak tersenyum. Tuntutan berpakaian rapi akan sia-sia bila pemimpin memang terbiasa tidak rapi. Semangat organisasi akan luntur saat seorang pemimpin tampil dengan lesu sehari-harinya. Pengaruh kepemimpinan tidak akan ada saat tidak ada bukti bahwa pemimpin melalukan apa yang dia yakini.

Mungkin contoh pemimpin yang menerapkan hal ini adalah Jack Welch saat dia membentuk General Electric menjadi boundary less organization, dengan setiap orang dalam organisasi dapat memberikan idenya. Di tingkatan apapun Welch berjanji untuk mendengarkan, dan dia menepati janjinya. Welch memberikan perhatian kepada karyawan tingkatan apa pun saat mereka memiliki ide untuk kebaikan organisasi, akibatnya seluruh karyawan General Electric, mengikuti kepemimpinan Welch. Harvard memberikan kesimpulan yang sederhana tentang hal ini, kalimat walk the talk dibalik menjadi talk the walk, akan lebih mudah bagi seorang pemimpin mengatakan apa yang telah dia lakukan, dan hal ini merupakan kekuatan yang besar untuk menggerakan organisasi. Talk the walk menjadikan seorang pemimpin berjalan dengan contoh hidupnya sendiri dan akan sangat efektif mempengaruhi organisasi, sebab memang perbuatan akan berbicara lebih kuat dari perkataan. Saya teringat seorang pemimpin yang saya kenal, mengambil sampah yang tercecer dilantai, tindakannya ini membuat organisasi akhirnya melakukan hal yang sama.

Bukan berarti tuntutan bagi seorang pemimpin adalah tuntutan yang sempurna, melakukan semua yang diyakini tanpa cacat, namun yang perlu dilakukan adalah mencoba melakukan tanpa pernah berhenti. Ingatan organisasi ada pada kesungguhan pemimpin untuk tekun mencobanya, teladan ini yang membuat organisasi bersemangat mengejar visi dan memberikan yang terbaik. Banyak pemimpin dunia menjalankan prinsip ini, memimpin dengan teladan. Martin Luther King, Jr, Gandhi, Abraham Lincoln, Winston Churchill adalah sebagian pemimpin besar yang tidak pernah menyerah untuk menjalankan kemimpinan dengan teladan. Ketika hal ini dilakukan oleh seorang pemimpin yang terjadi adalah perubahan dan pembaharuan organisasi menuju keberhasilan.

Leave a Reply