Mengapa Kita Berinvestasi Di Obligasi?

By: | Tags: | Comments: 0 | June 21st, 2017

Selain berinvestasi di saham, obligasi juga merupakan instrumen investasi yang menarik. Berbeda dengan saham, obligasi adalah bukti surat utang yang diterbitkan suatu lembaga atau perusahaan untuk jangka waktu tertentu dan menawarkan tingkat bunga (kupon) yang dibayarkan secara berkala, bisa tiga bulan, enam bulan atau satu tahun hingga masa jatuh tempo. Pada saat jatuh tempo pokok obligasi akan dibayarkan penuh oleh pihak yang menerbitkan obligasi.

Penerbit obligasi bisa perusahaan swasta, BUMN (badan usaha milik negara), atau pemerintah baik pemerintah pusat maupun daerah. Obligasi bisa menjadi pilihan instrumen terbaik, terutama bila Anda memiliki tujuan keuangan dalam waktu dekat (menengah).

Obligasi berpotensi memberikan tingkat bunga yang relatif lebih baik dibandingkan dengan deposito dan fluktuasi performanya relatif lebih rendah dibanding saham. Dengan tujuan keuangan antara 2 – 5 tahun, investasi ini mungkin akan menjadi investasi terbaik. Mengapa?

Dengan investasi dalam bentuk obligasi, tentunya Anda mendapatkan kepastian tingkat pengembalian sampai masa jatuh temponya. Sebagai ilustrasi, Anda membeli obligasi sebesar Rp 100 juta untuk masa tiga tahun dengan kupon bunga sebesar 12%. Anda akan menerima Rp 12 juta setiap tahunnya selama tiga tahun sampai obligasi tersebut jatuh tempo. Pada saat jatuh tempo, penerbit obligasi akan membayar modal Anda sebesar Rp 100 juta.

Obligasi ada juga yang tidak menawarkan bunga atau dikenal dengan zero coupon bond. Namun yang menarik dari obligasi jenis ini diperdagangkan pada harga diskonto dari harga wajarnya (nilai pari/par value). Obligasi tanpa bunga ini ada yang memiliki jangka waktu pendek maupun panjang. Obligasi yang berjangka waktu panjang umumnya memiliki masa jatuh tempo 10 tahun hingga 15 tahun.

Obligasi dengan jangka waktu dibawah 1 tahun disebut dengan surat utang seperti misalnya Treasury Bills di Amerika, Surat Utang Negara (SUN) di Indonesia. Investasi dalam bentuk obligasi tidak selalu semudah seperti ilustrasi di atas. Secara spesifik, para investor di obligasi harus mempertimbangkan risiko-risiko berikut ini:

Default risk (gagal bayar)

Penerbit obligasi adakalanya mengalami kesulitan untuk membayar kupon bunga obligasinya. Ada satu pendekatan yang bisa Anda lakukan untuk melihat potensi gagal bayar dari penerbit obligasi, yaitu dengan meilihat peringkat atau rating obligasi tersebut. Pemeringkatan ini dilakukan oleh sebuah perusahaan independen. Di Indonesia, perusahaan peringkat independen tersebut adalah Pefindo (Pemeringkat Efek Indonesia). Dalam hal ini, Pefindo memberikan simbol atau nilai pemeringkatan dari yang tertinggi sampai yang terendah sebagai berikut: idAAA (superior), idAA (very strong), idA (strong) , idBBB (adequate), idBB (somewhat weak), idB (non-investment) , idCCC (vulnerable), idD (default). Peringkat idAAA sampai dengan idBBB menyatakan bahwa sebuah obligasi dinyatakan aman dari default risk atau risiko gagal bayar atau dikenal dengan investment-grade bond. Peringkat di bawah dari idBBB tidak disarankan dalam investasi ini dan dikategorikan sebagai speculative-grade bond. Peringkat dari idAA sampai idB sering dibubuhi tanda – (minus) atau + (plus). Hal ini memberikan indikasi akan naik atau turunnya dari peringkat sebuah obligasi. Misalkan sebuah obligasi mendapat peringkat idA+, peringkat dari obligasi tersebut mungkin akan naik menjadi idAA atau bila peringkat dari sebuah obligasi adalah idAA-, kemungkinan peringkat obligasinya akan turun menjadi idA. Pemeringkatan ini memberikan informasi kepada Anda sebagai investor mengenai kapasitas maupun kemampuan sebuah penerbit obligasi dalam memenuhi janjinya, yaitu membayar bunga atau kupon secara berkala dan mengembalikan semua pokok atau nilai pari-nya saat jatuh tempo. Bila ada informasi di mana sebuah perusahaan akan gagal bayar, peringkat dari perusahaan tersebut akan turun dibarengi dengan anjloknya harga obligasi tersebut.

Naiknya Tingkat Suku Bunga

Risiko gagal bayar merupakan risiko yang paling ditakuti oleh para investor obligasi. Namun, bukan hanya risiko itu saja yang dapat mengakibatkan kerugian. Anda dapat tertimpa kerugian juga bila tingkat suku bunga naik, karena harga obligasi bergerak berlawanan arah dengan tingkat suku bunga. Bila tingkat suku bunga turun, harga obligasi akan naik. Akan tetapi bila suku bunga naik, harga obligasi tentunya akan menurun. Semakin jauh obligasi tersebut dari tanggal jatuh temponya, akan semakin besar penurunan harganya bila tingkat suku bunga naik, harga obligasi akan naik lebih besar bila tingkat suku bunga turun.

Jika Anda membeli obligasi pada nilai pari-nya, dan ketika itu tingkat suku bunga naik, Anda tidak akan mengalami kerugian bila Anda tetap memegang obligasi Anda sampai tanggal jatuh tempo. Namun jika Anda ingin menjual obligasi tersebut sebelum jatuh tempo, Anda mungkin akan menerima jauh lebih sedikit dari nilai pari-nya.

Risiko Pembelian Kembali (Call risk)

Ada beberapa jenis obligasi yang memiliki feature call, di mana perusahaan penerbit memiliki hak untuk membeli kembali (buy back) obligasi yang Anda pegang atau Anda miliki pada harga tertentu (call price), sebelum obligasi tersebut jatuh tempo. Hal ini biasa dilakukan oleh perusahaan penerbit saat tingkat suku bunga di pasar turun menjadi lebih rendah dari tingkat pembayaran kupon (coupon rate). Selanjutnya perusahaan penerbit akan menggantikan obligasi baru dengan tingkat kupon yang lebih rendah dari obligasi yang telah ditarik (call). Hal ini dapat mengakibatkan ketidakpastian dalam pola arus kas yang akan Anda terima. Selain itu, potensi untuk mendapatkan keuntungan dari selisih harga beli dan jual atau capital gain juga akan berkurang, karena harga oblilgasi di pasar tidak akan naik jauh dari call price yang telah ditetapkan. Jadi dalam hal ini, Anda harus memperhatikan spesifikasi serta feature yang ada di obligasi yang Anda beli.

Biaya Investasi Tinggi

Walau investasi obligasi berpotensi memberikan keamanan pada nilai investasi Anda, kerugian mungkin saja terjadi bila Anda ingin menjualnya sebelum jatuh tempo. Karena satuan jual beli instrumen investasi yang cukup besar, umumnya Rp 1 miliar, bila Anda hanya memiliki obligasi bernilai Rp 100 juta, biasanya bila Anda ingin menjualnya, Anda harus mau menerima nilai yang lebih rendah. Hal ini dikarenakan para pemain investasi ini umumnya adalah institusi besar seperti bank, perusahaan asuransi, atau dana pensiun. Pasar obligasi yang masih rendah (jumlah transaksinya) juga berpengaruh terhadap potensi kerugian dikarenakan tingginya biaya yang harus dikeluarkan. Salah satu trik yang bisa Anda lakukan adalah dengan membeli obligasi saat penjualan perdana dan menahannya sampai jatuh tempo. Dengan demikian, Anda akan mendapatkan harga yang sama seperti institusi besar.

Saat ini obligasi di Indonesia merupakan instrumen yang sangat diminati, sepanjang Oktober 2012, investor asing tercatat meningkatkan kepemilikannya di pasar obligasi pemerintah dengan nilai mencapai Rp 9.91 triliun. Menurut analisa beberapa pengamat menilai tren derasnya aliran dana asing ke pasar obligasi nasional disebabkan tingkat kepercayaan investor yang tinggi terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.

Sejumlah negara berkembang, dianggap menjadi lahan strategis untuk menaruh dana investasi di tengah perlambatan ekonomi Eropa yang belum juga mereda. Investor asing kembali masuk ke pasar regional termasuk Indonesia, karena pertumbuhan masih stabil. Selain itu, imbal hasil yang ditawarkan di Indonesia juga tercatat lebih baik dibandingkan negara berkembang lain.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal ketiga tahun ini sebesar 6,1% atau lebih rendah dari ekspektasi tidak mengurangi minat investor asing berinvestasi. Pasar obligasi November ini masih akan cenderung stabil seperti bulan sebelumnya. Meskipun pertumbuhan lebih rendah dari ekspektasi, tapi inflasi dan BI rate masih terkendali jadi imbal hasil tidak akan berbeda jauh dari sebelumnya.

Jadi tunggu apalagi jika anda punya dana lebih, lakukanlah investasi pada instrumen obligasi niscaya anda akan memperoleh investasi yang cukup aman dengan keuntungan yang menarik.

Bernhard Sumbayak

Founder Vibiz Group | Advisor Vibiz Consulting Group

Leave a Reply