Raksasa Karet Indonesia, Mampukah?

By: | Tags: | Comments: 0 | March 2nd, 2014

Bernhard Sumbayak, Founder and Advisor Vibiz Consulting (2 Maret 2014)
==============================================================

Kebutuhan manusia akan karet terus berkembang dan meningkat seiring meningkatnya pertumbuhan industri otomotif, kebutuhan rumah sakit, alat kesehatan dan keperluan rumah tangga dan sebagainya. Dapat diperkirakan pada masa yang akan datang kebutuhan akan karet akan terus meningkat.
Melihat adanya peningkatan permintaan akan bahan karet alami khususnya di negara‐negara industri, maka upaya untuk meningkatkan persediaan akan karet alami dan industri produksi karet merupakan langkah yang bagus.
Meskipun permintaan akan bahan karet alami ini sempat mengalami penurunan (yang juga mengakibatkan penurunan harga bahan karet alami) karena krisis ekonomi dinegara-negara maju (seperti AS dan Eropa) yang banyak memakai bahan karet alami, namun memasuki tahun 2014 ini ada harapan ekonomi negara-negara maju tersebut akan kembali mengalami kenaikan yang pada gilirannya akan menaikkan permintaan terhadap bahan karet alami ini. Tabel dibawah ini bisa menjelaskan naiknya produksi bahan karet alami baik karena kenaikan produktifitas maupun karena kenaikan luas areal tanam.

Perkembangan Luas Areal, Produksi dan Produktivitas
Tahun 2006 -2013

Luas Lahan Karet Indonesia Berdasarkan Pengusahaannya
Indonesia merupakan produsen penghasil karet alam terbesar nomor dua di dunia dengan produksi 2,5 juta ton setelah Negara Thailand, namun luas areal perkebunan karet alam Indonesia adalah yang terbesar di dunia dengan 3,43 Juta Hektar atau sekitar 1,5 kali luas kebun karet Thailand (Sumber GAPKINDO 2009). Jumlah ini masih akan bisa ditingkatkan lagi dengan melakukan peremajaan dan memberdayakan lahan-lahan pertanian milik petani serta lahan kosong / tidak produktif yang sesuai untuk perkebunan karet.
Karet alam Indonesia memiliki peranan yang sangat strategis karena merupakan salah satu komoditi industri hasil tanaman tropis yang mempunyai peranan penting dan strategis dalam mendukung perekonomian nasional, utamanya sebagai sumber nafkah berjuta-juta petani karet di pedesaan sehingga dapat membendung arus urbanisasi, serta sebagai penyedia lapangan kerja bagi buruh pabrik karet dan salah satunya adalah sebagai andalan dan unggulan seperti ekspor karet alam yang mampu memberikan kontribusi di dalam upaya peningkatan sumber devisa Indonesia
Melihat potensi pasar karet yang cukup besar tersebut, perlu kiranya pemerintah beserta seluruh aspek yang terkait mendorong terciptanya suatu lingkungan yang dapat mengoptimalkan kinerja karet nasional. Salah satu langkah yang dapat mendorong peningkatan produksi adalah peremajaan lahan karet yang sebagian besar telah memasuki tahapan tidak produktif (tanaman berusia di atas 20 tahun) di samping tetap melakukan perluasan lahan.
Strategi peremajaan lahan karet dinilai cukup baik dengan luas lahan karet saat ini mencapai 3,4 juta hektar sehingga apabila lahan tersebut dioptimalkan melalui peremajaan diharapkan tingkat produksi akan meningkat sekitar 20-30 %.
Terdapat 3 jenis perkebunan karet yang ada di Indonesia, yaitu Perkebunan Rakyat (PR), Perkebunan Besar Negara (PBN) dan Perkebunan Besar Swasta (PBS). Dari ketiga jenis perkebunan tersebut, PR mendominasi dari luas lahan yang mencapai 2,9 juta hektar atau sekitar 85% dari lahan perkebunan karet.
Dengan sedemikian luasnya perkebunan karet yang dikelola rakyat, keterkaitan penyerapan tenaga kerja dan sebagai sumber pendapatan rakyat diharapkan dapat ditingkatkan dengan pengelolaan yang terpadu. Perkebunan besar diharapkan dapat menjalin program kemitraan dengan petani agar nilai tambah dari pengelolaan perkebunan rakyat dapat optimal diantaranya dengan kemitraan di bidang pemasaran, pembinaan produksi hingga pembiayaan yang berkesinambungan.
Luas areal dan produksi karet Indonesia, dapat terlihat pada tabel di bawah ini.

Luas Areal Karet Berdasarkan Pengusahaannya
2005 – 2013


Posisi Karet Indonesia di Dunia
Produksi Karet dunia dalam beberapa tahun terakhir ini sedikit berfluktuasi, namun secara umum masih cenderung meningkat. Produksi Karet dunia pada tahun 2002 sekitar 7,3 juta ton, meningkat terus setiap tahun menjadi 10 juta ton pada tahun 2008 dan mengalami penurunan pada tahun 2009 menjadi sebesar 9,6 juta ton.

Menurut penyebarannya ternyata produksi Karet dunia tidak menyebar merata diberbagai kawasan dunia, produksi karet terbesar berada di wilayah Asia. Thailand tercatat sebagai produsen terbesar selama beberapa tahun terakhir ini. Produksi Karet di negara ini memang sedikit mengalami fluktuasi, namun secara umum masih menunjukkan peningkatan dengan laju pertumbuhan rata-rata sekitar 2,2% per tahun. Produksi Karet di negara ini pada tahun 2002 masih sekitar 2,6 juta ton, kemudian pada tahun 2006 melonjak hingga mencapai 3,1 juta ton, namun pada tahun 2009 hanya mencapai 3 juta ton.

Indonesia yang tercatat sebagai produsen Karet terbesar kedua setelah Thailand, pada tahun 2002 mampu memproduksi sekitar 1,6 juta ton dan meningkat pada tahun 2007 menjadi 2,8 juta ton kemudian turun pada tahun 2009 menjadi 2,5 juta ton.
Sementara itu, negara di kawasan Asia lainnya yang memiliki produksi Karet cukup tinggi adalah Malaysia dan Vietnam. Adapun perkembangan produksi karet dunia secara singkat dapat dilihat pada tabel dibawah ini.
Tabel
Perkembangan Produksi Karet Dunia
Tahun 2002 – 2009(ribuan ton)

Negara-negara produsen Karet dunia dapat dilihat secara total prosentase pada tahun 2009 menunjukkan bahwa Thailand tercatat sebagai produsen terbesar (32,93%), Indonesia sebagai produsen terbesar kedua (25,53%), secara lengkap dapat dilihat dalam gambar dibawah ini.

Permasalahan Pengembangan Karet di Indonesia
Rendahnya Produktifitas
Soal produktifitas, tanaman karet Indonesia kalah dibandingkan dengan negara-negara lain penghasil karet di dunia. Bahkan produktifitas karet alam Indonesia ada dinomor buncit sebagaimana yang bisa dilihat di tabel di bawah ini.
Produktifitas Karet Alam Beberapa Negara di Dunia
(Kg/Ha)

Produktifitas karet India saat ini 1,8 ton per hektar dan Thailand 1,79 ton. Vietnam yang baru saja mengembangkan produktifitas tanamana karetnya bisa mencapai 1,72 ton per hektar. Sri Lanka 1,55 ton dan Cina 1,16 ton. Produktifitas tanamana karet milik petani di Malaysia mencapai 1,5 ton, sedangkan Indonesia hanya bisa mencapai 1,0 ton per hektar per tahun. Kondisi di Indonesia sangat ironis, mengingat petani Indonesia saat ini menguasai 85% dari total luas lahan perkebunan karet di Tanah Air. Rendahnya produktifitas tanaman karet Indonesia akibat kurangnya perhatian pihak terkait dalam bidang penelitian dan pengembangan (litbang) tanaman karet.
Kurangnya Revitalisasi
Dari 3.456.128 hektar luas areal tanaman karet di Indonesia, saat ini sekitar 400 ribu hektar tanaman karet kondisinya sudah tua atau rusak yang tidak menggunakan klon unggul dan harus segera diremajakan, sementara 592 ribu hektar merupakan tanaman yang belum menghasilkan. Sisanya sebesar 2.464.128 hektar (71%) barulah merupakan tanaman yang menghasilkan.

Kurangnya Penggunaan Benih Unggul
Staff ahli Dewan Karet Indonesia (Dekarindo) Suharto Honggokusumo mengatakan penyebab rendahnya produktifitas tanamana karet petani diantaranya karena menggunakan bibit atau benih yang tidak unggul. Tercatat 40% benih yang digunakan petani tidak masuk criteria unggul. Selain itu petani tidak menguasai tehnik dan tata cara budidaya tanamana karet yang tepat dan baik. Apalagi dalam penguasaan tehnologi penyadapan, kemampuan petani juga sangat minim. Indonesia harusnya bisa meniru Thailand. Tingkat penggunaan benih unggul di Indonesia baru mencapai 60%, sementara Thailand sudah 95% menggunakan klon unggul.
Terpencar-pencar dan kecil-kecil.
Lokasi perkebunan rakyat terpencar-pencar dalam skala luasan yang relatif kecil-kecil dengan akses yang terbatas, sehingga biaya angkut menjadi tinggi dan kurang efisien.
Usaha Mengatasinya
Peningkatan Produktifitas
Salah satu cara peningkatan produktifitas adalah dengan meningkatkan mutu hasil tanaman karet alam yang dihasilkan oleh para petani. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa mutu bahan olah karet (BOKAR) yang berasal dari kebun rakyat masih Dbelum memenuhi SNI BOKAR. Terkait dengan upaya peningkatan mutu Bikar Menteri Pertanian telah menerbitkan Peraturan Menteri Pertanian No 38 tahun 2008 tentang Pedoman Pengolahan dan Pemasaran Bokar.
Di dalam Permentan ini diatur kebijakan pengolahan Bokar dimana untuk menjaga keberlanjutan usaha tani, petani wajib melakukan proses penyadapan karet dengan tehnik yang benar, tenaga penyadap yang terampil dan peralatan yang baik, sesuai dengan baku tehnis yang telah ditetapkan. Untuk memperoleh nilai Bokar yang layak, petani wajib menghasilkan Bokar yang bermutu sesuai standard SNI Bokar yang telah ditetapkan.
Upaya perbaikan mutu Bokar tidak didekati melalui orang per orang (petani) melainkan didekati dari semangat kebersamaan petani dalam suatu kelembagaan yang dibentuk oleh petani/kelompok tani yakni Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB) sehingga lebih mudah dilakukan pembinaan. UPPB berfungsi memberikan pelayanan tehnis pengolahan maupun pengembangan usaha pemasaran Bokar milik anggota kelompok. UPPB dilengkapi dengan peralatan dan bahan yang diperlukan dalam proses pengolahan Bokar serta didampingi oleh seorang petugas teknis dan administrasi yang terlatih.
Program Revitalisasi
Peremajaan karet tua dan tidak produktif terutama pada perkebunan rakyat dilakukan pemerintah melalui peningkatan adopsi klon dari 40% pada tahun 2004 menjadi 55% pada tahun 2012, yang terutama direalisasikan melalui gerakan peremajaan karet rakyat.
Upaya percepatan pengembangan perkebunan rakyat melalui perluasan, peremajaan dan rehabilitasi tanaman perkebunan yang didukung kredit investasi dan subsidi bunga oleh pemerintah melibatkan perusahaan dibidang usaha perkebunan sebagai mitra pengembangan dalam pembangunan kebun, pengolahan dan pemasaran hasil.
Ditjen perkebunan telah melaksanakan program revitalisasi dan program non revitalisasi karet rakyat. Program ini dibiayai dari APBN dan dana perbankan dengan subsidi bunga dari dana APBN. Target program revitalisasi karet rakyat tahun 2011-2014 seluas 119.000 ha terdiri dari peremajaan seluas 74.600 ha dan perluasan 44.000 ha.
Realisasi sampai April 2013 baru mencapai seluas 9.120 ha (7.65% dari target) dengan petani 4.730 KK. Pada tahun 2014 direncanakan program peremajaan seluas 8.910 Ha yang tersebar di 13 Propinsi dengan 42 Kabupaten.
Penggunaan benih unggul.
Didalam kebijakan pengembangan produktifitas karet perkebunan rakyat Indonesia, pemerintah mendorong penggunaan klon unggul lateks dan kayu yang mempunyai produktifitas lateks lebih dari 2.500 kg/ha/tahun, dan menghasilkan produktifitas kayu karet lebih dari 300 m3/ha.
Selain itu pekebun juga didorong untuk meningkatkan hasil kebunnya melalui pemupukan dan peningkatan adopsi teknis budidaya karet terkini, antara lain periode Tanaman Belum Menghasilkan (TMB) yang bisa lebih pendek dari 21-24 bulan.
Memperluas Areal Tanam
Persoalan dimana lokasi perkebunan rakyat terpencar-pencar dalam skala luasan yang relatif kecil-kecil dengan akses yang terbatas, sehingga biaya angkut menjadi tinggi dan kurang efisien, dapat diatasi dengan memperluas areal tanam para petani pekebun rakyat Indonesia.
Saat ini, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, total luas perkebunan karet di Indonesia mencapai 3,45 juta ha, dimana sekitar 85% diantaranya dikuasai petani rakyat, sedangkan 7,5% dikuasai oleh Perusahaan Perkebunan Milik Negara (BUMN) dan 7,5% lainnya perusahaan swasta.
Menurut Suharto, Indonesia harusnya bisa meniru Thailand dimana sejak 2006 sudah berhasil membantu dan memfasilitasi petani karet sehingga produktifitas meningkat. Dan bukan itu saja, petani rakyat juga diberi kemudahan untuk mengakses atau memperluas lahan lebih luas. Sedikitnya 400 ribu ha lahan bisa ditambah oleh petani karet Thailand sejak 2006, sementara petani Indonesia masih kesulitan melakukannya.

Arah Kekuatan Indonesia
Saat ini Indonesia masih bisa berbangga karena menjadi produsen karet alam terbesar kedua di dunia setelah Thailand. Produksi karet nasional pada tahun 2013 diprediksi mencapai 3 juta ton atau naik 3% dari tahun lalu. Tahun 2014, produksi karet alam Indonesia ditargetkan mencapai 3,18 juta ton karet kering.
Tetapi tren karet sedang mengalami perubahan dimana banyak negara, terutama di Asia Tenggara yang kondisi iklim dan geografisnyanya mendukung mulai mengembangkan perkebunan karet rakyat. Mereka menyadari tanaman karet bisa menjadi “obat” bagi masalah kemiskinan dan pengangguran di pedesaan.
Negara yang sedang semangat mengembangkan perkebunan karetnya adalah Vietnam, Laos, Myanmar dan Kamboja. Produksi karet alam Vietnam bahkan melejit menjadi terbesar keempat di dunia dan mulai diperhitungkan.
Karena negara-negara produsen karet alam kian banyak, produksi menjadi meningkat. Dengan demikian usaha perkebunan karet kian dituntut kompetitif. Tren persaingan harga akan bertambah ketat. Cara satu-satunya untuk bisa mempertahankan diri menjadi raksasa karet dunia adalah dengan meningkatkan daya saing.
Peningkatan daya saing memerlukan usaha yang konkrit dan berkelanjutan di dalam empat hal sebagaimana telah disebutkan diatas, yakni peningkatan produktifitas, program revitalisasi, penggunaan bibit unggul dan perluasan lahan petani rakyat. Tanpa usaha yang konkrit dan berkelanjutan dalam ke empat hal tersebut maka cepat atau lambat, Indonesia akan tergeser dari posisinya sebagai raksasa komoditi karet dunia.
Selain meningkatkan daya saing agar mendapatkan pasar di negara-negara lain, untuk meningkatkan harga karet bisa juga dengan cara memperluas pasar di dalam negeri sendiri. Perluasan pasar di dalam negeri bisa di picu melalui peningkatan value added dengan hasil produk-produk akhir berbahan karet di Indonesia, seperti produk-produk ban, alat kesehatan, dan temuan-temuan lainnya.
Sebagai penutup perlu di catat bahwa peran Indonesia sebagai raksasa komoditi karet dunia akan bisa banyak terbantu apabila Indonesia memiliki bursa komoditi karet yang aktif. Bursa komoditi karet bisa terdiri dari dua bagian besar yaitu bursa fisik dan bursa berjangka.
Dengan ditransaksikannya karet melalui pasar fisik di bursa, maka akan tercipta efisiensi pasar dimana harga yang terbentuk menjadi lebih wajar dan transparan sehingga tidak dapat ditekan oleh pembeli/pedagang. Para petani memiliki referensi harga dalam menawarkan hasil produksinya dan selain itu standard mutu juga semakin baku. Sementara itu dengan ada karet di pasar berjangka di Indonesia maka tersedia sarana untuk lindung nilai baik bagi pembeli maupun penjual, sehingga tidak perlu kuatir dengan gejolak harga yang terjadi.

Leave a Reply

WhatsApp chat